Friday, August 19, 2016

Cinta di Ujung Negeri

Feri (KAMMI), Mursalim (PMII), Khairil (IMM). Tiga guru di SD N 25 Inp. Lombang

Indoensia bukanlah satu daratan yang kecil. Terdiri dari pulau-pulau kecil dan besar, suku dan agama yang beraneka, Indonesia terbentang luas dari Sabang hingga Papua. Dari fakta ini, ada perasaan malu dalam diri untuk sekadar berbicara soal Indonesia, apa lagi mengaku-ngaku  mencintainya. Sebab, seringkali orang mengaku mencintai Laila, sedangkan Laila tak pernah mengakuinya (pepatah). Banyak orang yang mengaku cinta Indonesia, padahal tak tahu persis tentangnya, lantas bagimana mungkin diterima pengakuannya?

Itu sebabnya sebagian orang memilih diam, mencintai dalam sunyi, berbakti tanpa diketahui. Orang-orang ini ibarat ‘abid yang tersembunyi amalnya, selain takut riya, mereka juga merasa bukan terbaik dari hamba lainnya. Orang-orang ini rendah hatinya, baik akhlaknya, dan berusaha menjadi sebenar-benarnya hamba, dan berupaya menjadi terbaik tanpa mengaku sembari mengusungkan dada lalu berkata, “Akulah paling mulia”.

Demikianlah cara para petani mencintai negeri ini; di pagi hari menanam benih, pulang sore meski letih. Mereka jarang yang kaya, namun tanpa mereka, si kaya tak berarti apa-apa. Begini pula cinta guru di pelosok negeri dengan gaji kecil yang tak cukup untuk hidup sehari-hari. Sedang dari pusat menuntut mereka terlalu tinggi, padahal jumlah guru di pelosok belum tercukupi. Namun mereka tetap pergi. Yang mereka pikir hanya murid yang menunggu setiap pagi. Ini cara guru di pelosok negeri mencintai generasi.

Ada hal menarik yang kualami sendiri ketika ditugaskan mengajar di salah satu SD yang ada di Majene (Sulawesi Barat). Di sana, aku tidak mempersoalkan tentang diriku. Bagiku, apa yang kudapat, bukanlah yang utama. Justeru ini soal mereka. Ada perasaan malu di satu sisi, namun terharu di sisi yang lain. Ini disebabkan oleh realita masalah pendidikan di Indonesia. Tidak mungkin mengulasnya satu persatu, maka akan aku sebutkan bagian-bagian yang paling membuatku malu dan terharu.

Aku malu ketika mendengar beberapa cerita guru honorer di tempat aku ditugaskan. Beberapa guru honorer itu mengaku sudah lama mengabdi di sekolah itu. Yang paling muda, telah mengabdi satu tahun sebelum aku ada di situ. Aku dibuat malu, tepatnya merasa malu karena aku bukan apa-apa dibanding mereka. Kalau di luar sana banyak orang yang memuji kami, aku justeru malu dengan guru-guru yang sebenarnya lebih layak untuk itu.

Mereka hanya luput dari pemberitaan, kurang diapresiasi, dan cenderung diremehkan. Padahal, yang bersikap demikian tidak akan pernah mau berada di posisi guru-guru ini. Ya, siapa yang mau mengabdi di daerah terpencil dengan gaji di bawah Rp 300.000 per-bulannya? Salah seorang yang juga honorer di SD itu bahkan tak mendapat apa-apa dari hasil kerjanya. Aku katakana demikian, sebab ia meminjam motor ke tetangga atau saudaranya untuk kemudia naik ke gunung dimana SD itu berada. Gajinya hanya untuk bensin motor yang dipinjamnya untuk mengajar setiap hari.

Pernah suatu malam dimana aku nyaris meneteskan air mata karena haru. Pada saat itu, guru honorer yang kusebut tadi datang ke rumah (tempat aku tinggal), ia menanyakan kunci sekolah hanya untuk mengambil jawaban hasil ulangan anak-anak yang ingin diperiksanya malam itu juga. Padahal ada hari esok, atau lusa. Tapi ia memilih tidak menunda. Kejadian berbeda di malam hari juga, guru tersebut kembali ke sekolah untuk meminta warga setempat (yang punya mobil) untuk mengangkut kursi sekolah akibat tidak dibolehkannya pengangkutan di kala siang (ada perbaikan jalan). Adapun mobil dari desa lain, tidak mungkin mau ke SD yang letaknya di gunung dengan jalanan yang rusak.

Realita itu membuatku berubah haluan. Awalnya aku mengagumi negeri ini karena alamnya yang indah, kini sedikit bergeser kepada semangat bangsa yang masih ada. Aku menyaksikan orang-orang dengan semangat yang nyaris tanpa pamrih. Aku merasakan semangat kepahlawanan itu ternyata masih ada. Kalau dulu aku membaca sejarah pahlawan di buku-buku pelajaran saja, tapi kini aku melihat pahlawan-pahlawan itu secara nyata.

Cinta mereka terhadap negeri ini seperti defenisi cinta dalam arti semestinya (cinta yang ideal) atau tentang hakikat cinta yang dimaksud oleh Ibn Hazm el-Andalusy. Menurutnya, cinta bukanlah sebuah “karena”. Cinta adalah cinta. Cinta tidak mempunyai “sebab” yang membuatnya fana. Cinta adalah keabadian sang Maha Cinta. Orang-orang yang kusebut tadi, adalah orang yang mencintai negeri ini dengan cinta sejati. Mereka adalah pahlawan tanpa media; yang memberitakan, yang menyebut mereka pahlawan. Dan jumlah mereka tentu lebih banyak dari orang-orang yang disebut-sebut oleh media.

Orang-orang ini memberiku keyakinan bahwa mencintai Indonesia memang semestinya tidak punya alasan. Sebagai orang Indonesia, apakah pantas kita membenci diri atau bangsa sendiri? Kalau pun “cinta” tidak cukup sebagai alasan, maka keberadaan orang-orang di atas adalah alasan lainnya. Boleh dikatakan, kecintaan terhadap negeri ini semestinya bukan karena alamnya yang melimpah, melainkan pada manusianya yang baik, ikhlas, dan ramah. Demikianlah cinta guru terpencil pada negeri ini.

Wednesday, February 13, 2013

Aku dan Sejuta Kegagalan

Sekedar Pengantar
Ini kisah nyata perjalanan hidupku
Semoga bermanfa'at . . . . .

Kenangan . . .. 
Tak banyak yang ku ingat dalam perjalanan hidup ini. Sebisa mungkin, aku mencoba memutar kembali memori kenangan itu. Setidaknya, di saat aku benar-benar lupa, aku bisa membaca kembali tentang diriku yang dulu. Ya, aku ingin tersenyum atas kesuksesanku jika memang dulu aku seperti itu, atau menangis karena kejahatanku. Tulisan ini sengaja ku ketik untuk itu. Aku tak ingin seperti daun yang jatuh menjadi tanah, lantas lupa bahwa dia adalah daun yang rindang/teduh dulunya. Aku punya sejarah, meski tak indah. Aku punya kenangan, meski tak layak dikenang.

Dulu, hobiku adalah makan ice cream, cokelat, dan semua yang manis-manis. Di Jakarta, tiap kali jalan-jalan aku dan adikku Rahayu Afrianti selalu dibelikan ice cream. Mungkin inilah sebabnya mengapa dulu gigiku ompong. Nenekku (Ibu dari Mamaku) menjadikan ini sebagai lelucon, beliau menyanyikan lagu itu untuk menghiburku. "Pong aik aik, si ompong bau taik," hanya itu lirik yang selalu diulangnya.

Tapi, itu dahulu. Adapun aku yang sekarang bergigi jarang, sensitif dan memiki berat badan yang mudah tumbang. Aku kurus tinggi. Temanku menyebutku galah (alat menjolok sesuatu yang tinggi, seperti buah di pohonnya). Mereka yang tidak pernah melihatku dalam jangka waktu 4-6 tahun akan terkecut dengan kecepatan pertumbuhanku ini. Banyak yang berubah, termasuk cara pandangku.

Di Jalur Pendidikan Umum
Sejatinya aku tidak memisah-misahkan hal ini.

Ketika aku masuk TK (Taman Kanak-Kanak) di Desa Lawe Sigala-gala, banyak yang menggangguku karena kediamanku. Dulu aku sangat lugu, polos dan terlihat baik. Hal yang paling ku ingat adalah ketika aku meloncat dari ayunan besi karena temanku malah mengayun kencang padahal aku minta berhenti. Darah di kepalaku lumayan banyak, dan bekas itu masih ada, mungkin. Aku juga sering menangis. Tapi dulu, di TK itu, aku sempat naksir kepada cewek. Sampai sekarang cewek yang ku taksir itu masih cantik dan punya karir yang bagus. Kekayaannya menurunkan semangat juangku. He he he.

Setelah lulus TK, aku melanjutkan pendidikan SD di SDN 1 lawe Sigala-gala. Di kelas tiga pada ujian catur wulan dua kalau tak salah, aku gagal meraih ranking 1. Irwana Fenata menggesarkanku ketika itu. Lalu, Lia yang juga baru beberapa bulan pindah ke kelasku ikut-ikutan menyingkirkanku. Aku akhirnya harus rela berada pada perngkat dua, lalu tiga, dan yang terakhir peringkat ke-empat setelah Sri Wahyuni (Noni) menyusul menghancurkan nasibku. Untuk pertama kalinya jatuh, aku menangis karena takut dimarahi mamak. Aku pernah dimarah hanya karena nilai 8 (delapan). Aku juga dimarah hanya karena tak belajar malam atau belajar tapi telat tidur. Dulu hidupku sangat teratur.

Meski berada di peringkat empat, oleh dukungan teman-teman aku diutus bersama Irna dan Lia mengikuti cerdas cermat tingkat Kecamatan dan kami memang. Sayangnya, di tingkat Kabupaten aku tidak ikut, dan kami kalah (bukan karena kau tak ikut). Selain gagal mempertahankan ranking 1, aku juga gagal mempertahankan posisi ketua kelas ketika itu. Irna (Irwana Fenata nama lengkapnya) boleh berbangga atas ketidakmampuanku ini. Emansipasi telah terjadi sejak aku SD ternyata, tapi materi gender baru ku dapat di kelas 3 'Aliyah/SMA.

Di Tsanawiyah, aku gak pernah dapat ranking bagus. Semuanya di atas angka 10. Di 'Aliyah aku berada pada putaran ranking enam dan lima. Aku selalu gagal meraih ranking 1.


Di Dunia MTQ

Selain uraian di atass, kegagalanku juga merambah ke dunia MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an). Mulanya di tingkat Kabupaten Aceh Tenggara. Aku dikalahkan, dan ketika itu aku memang tak yakin menang. Tapi, aku terheran karena namaku juga disebut sebagai juara haparan 1 atau juara 4. Ntah kenapa, pada seleksi Provinsi, aku lewat dan ikut MTQ tingkat Provinsi di Singkiil untuk pertama kalinya. Aku gagal di Singkil, bahkan utuk sekedar meraih hadiah hiburan aku tak dapat. Sebelum ke Singkil, aku juga berangkat ke Banda Aceh untuk ikut MTQ tingkat sekolah. Aku kalah, tak ada juara. Bahkan uang saku kami dipotong oleh Koruptor Agara dengan alasan Kabupaten tidak mendanai keberangakatan kami. Lalu, mengapa pergi dan setelah kami dikasih duit saku, duit itu diambil dengan alasan konyol itu? Aku tak boleh berprasanka, bisa jadi mereka memang benar. Ampuni aku Tuhan.

Masuk ke MTs. S Bustanul 'Ulum Langsa, job MTQ seakan ladang duit bagiku (begitulah pikiran orang-orang yang ikut MTQ pada umumnya). Mewakili Aceh Timur aku ikut STQ di Banda, aku berjumpa Munzir yang punya prestasi MTQ sampai tingkat Nasional. Tapi, aku juga tidak dapat apa-apa selain ilmu/pembelajaran dan pengalaman. Sampai di sini, bidang yang ku tekuni adalah tilawah (seni qira'ah).

Sepulangnya dari Banda Aceh, Aceh Timur mengadakan MTQ tingkat Kabupaten, aku mendapat TV sebagai hadiah juara 1 untuk bidang Hifdzhil 1 Juz kategori putera. Di Provinsi yang diadakan di Langsa sebagai tuan rumah, lagi-lagi aku gagal. Anehnya, di Medan (Asrama haji Medan), aku meraih juara 2 dua se-Sumatera yang diadakan oleh PTPN 2 Tanjong Morawa. Aku mewakili PTPN 1 Langsa. Di Aceh hanya ada 1 PTP. Sampai di sini kegagalanku di bidang hifdhzil qur'an.

Di hari-hari berikutnya, aku berpindah bidang ke bidang Syarhil. Tingkat Kota Langsa (setara Kabupaten), aku dan dua teman lainnya gagal meraih juara satu. Kami berada di peringkat dua. Sebelumnya di tingkat kecamatan Langsa Timur meraih juara satu. Di bidang yang sama, aku gagal dan tak meraih juara pada tingkat Kabupaten Aceh Timur. Di Kabupaten Aceh Tenggara kami meraih juara 1 di bidang Syarhil. Dan aku juga pernah meraih juara dua untuk bidang ini di Kabupaten Aceh Tenggara. Di bidang Syarhil, mewakil Aceh Tenggara (karena sebelumnya dapat peringkat 1), kami berangkat ke Bireun untuk tingkat berikutnya. Pada tingkat Provinsi, kami kalah lagi.

Lalu aku beralih ke fahmil qur'an, dan untuk pertama kalinya, kami malah menang dan dapat juara 1. Tapi kami gagal ke tingkat Privinsi. Akhirnya, aku beralih ke bidang pertama, yaitu seni qira'ah. Aku ikut dengan kategori remaja putera. Di Langsa Lama mendapat peringkat 3 kalau gak salah, kemudian di Langsa Barat dapat peringkat 1. Tapi di tingkat Kota Langsa aku gagal meraih juara 1, 2 atau 3. Aku dapat juara 4 (harapan 1). Terakhir, aku ikut MTQ di Takengon. Tingkat Provinsi dengan bidang seni qira'ah, lagi-lagi aku gagal. Sekarang MTQ benar-benar hilang dari hidupku.

Di Bangku Kuliah

Bagian ini ku tulis khusus karena unik menurutku. Aku kuliah di Jurusan Jinayah wa Siyasah. IPK-ku sampai sekarang tidak pernah mencapai 4.0. Selalu di bawah itu. Hingga saat ini IPK-ku adalah 3.8 ke atas. Di jurusan pidana dan politik  ini, aku belajar banyak hal. Prestasi formal yang tinggi ku dapatkan adalah pernah mengikuti Kompetisi Debat di Tingkat Nasional yang  diadakan oleh Mahkamah Konstitusi RI. Awalnya aku gagal di Regional 6, kami hanya meraih 4 besar dan berangkat ke Jakarta untuk diadu lagi. Di Jakarta kami gagal lagi.

Keunikan seperti yang ku sebut di awal bagian ini adalah, di bangku kuliah aku belajar gitar dan sekarang lumayan bisa. Bahkan aku punya dua lagu ciptaan sendiri. 1 lagu lumayan banyak penggemarnya, berkisar 10 orang, ha ha ha. Di bangku kuliah juga aku mulai bekerja. Menjual es buah dan jus, menjadi pelayan di Warnet, menjadi guru ngaji di TPA, juga mengajar di SMA (ekstra kurikuler). Semua itu ku lalui penuh warna. Tapi, aku gagal mempertahankan sesuatu yang menjadi kewajiban, aku gagal mempertahankan yang telah ada. O iya, untuk saat ini, aku juga pernah tampil stand up comedy dua kali di dua Acara.

Aku gagal menulis beberapa tulisan walau hanya satu buku. Tulisanku hanya dimuat di Blog pribadiku, di Gema Baiturrahma, di Catatan FB, dan yang terakhir di dua buku Antologi Cerpen dengan judul "Sang Juara" dan "Kami Tak Butuh Kartini Indonesia". Tapi judul cerpenku adalah "Membunuh Takdir" dan "Namaku Bukan Amy/Namaku Aminah". Juga di Blog HMJ-SJS, di Blog KP2A yang ku kelola, jadi gak perlu dibanggain. He he he.

Pastinya, sangat banyak kegagalan yang ku alami. Sampai saat ini, kegagalan itu menghantui dan ingin mematahkan kaki. Gagal menginginkanku pincang; tak bisa berjalan. Aku gagal memaknai proses ini, dan aku suka kegagalan itu. Yang jangan, aku masuk ke lubang yang sama. Mottoku adalah:

"Sesungguhnya Kegagalan tak Pernah Ada, Kitalah Yang Gagal Memaknai Prosesnya"

Terimakasih, sekian dan nantikan omelanku lainnya, He he he......................