Tuesday, August 22, 2017

Mencintai, Bukan Memiliki

Sumber: https://www.wattpad.com/
Aku Mencintaimu, Bukan Memilikimu.
Setelah kupertimbangkan, akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan bahwa kau bukan milikku. Rasanya terlalu mulia dirimu untuk sekadar dimiliki. Sebab kau lebih pantas untuk kucintai.
"Memiliki" mungkin punya arti yang baik, namun tetap saja punya makna yang negatif. Kenetralannya justru menempatkanmu pada dua kemungkinan itu. Dan bagiku, kau harus pada tempat yang mulia, di sampingku; setara denganku.
Tidak kubiarkan kemungkinan lain menghampirimu. Dan mencintai adalah kata yang tepat untuk maksud baikku. Berbeda halnya jika kau kumiliki. Ya, karena "memiliki" bisa saja membuatku berlaku kasar, semena-mena, dan tidak hormat padamu.
"Memiliki" menempatkanmu layaknya barang. Saat kau kunikahi, kau seakan kubeli dari ayah dan ibumu. Mahar menjadi bayaran. Dan pada akhirnya, kau jadi milikku. Sepenuhnya kau harus taat padaku. Bahkan, segala keinginanmu, harus lewat izinku.
Tapi, apa iya kau adalah barang? Apa benar kau kubeli? Tidak. Itu tidak benar. Mahar yang kuberikan tak lain sebagai hadiah. Sebab, dulu, perempuan bahkan bisa diwariskan. Lelaki jahiliyah dahulu bisa sesukanya kepada perempuan.
Lalu semua itu berubah. Sedikit demi sedikit derajatmu dinaikkan. Di beberapa hal, kau bahkan dilebihkan. Tujuannya untuk mempercepat terciptanya kesamaan atau kesetaraan. Sebab prinsipnya, kita ini sama (equal), apapun jenis kita.
Jadi, maafkan aku karena aku tidak bisa memilikimu. Aku hanya ingin mencintaimu. Dengan cinta, aku berharap bisa terus bersama, saling menghormati, berbagi, berdiskusi, dan tidak ada yang lebih tinggi. Aku bahkan akan mendengar perintah baik darimu, pun sebaliknya.
Jika permintaanku itu buruk bagimu, abaikanlah. Sebab, seotoriter apapun aku, bahkan jika perintah itu berasal dari penguasa yang punya kekuatan, maka kaidahnya adalah, "Tidak ada ketaatan pada keburukan (ma'shiat pada Allah)".
Lalu apa arti menikah bagiku? Menikah adalah sarana terbaik dan paling complete untuk mencintai. Dengan menikah, apa-apa menjadi ibadah. Artinya, segala larangan (dosa) atau yang dianggap nafsu, setelah nikah menjadi perintah (pahala) yang dianggap cinta. Ya, menikah bagiku adalah mencintai, bukan transaksi jual beli.
Dengan begitu, setelah restu keluargamu ku dapat, kau akan tetap jadi dirimu seutuhnya; tetap jadi anak dari ayah dan ibumu, kakak atau adik dari saudarimu, atau tetap menjadi teman dari kerabat laki-laki dan perempuanmu. Tidak ingin aku jadikan pernikahan sebagai penjara yang menghalangimu mencintai atau dicintai oleh orang lain. Tidak, akuaku tidak akan membenarkan itu.

Tiada Paksaan dalam Cinta


Sumber: https://hot.detik.com/
Dalam hadits disebutkan, tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Di hadits yang lain dikatakan pula bahwa kamu tidak masuk syurga hingga kamu beriman. Dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai.
Jika kita telusuri beberapa hadits soal iman, kita akan menemukan begitu banyak bagian-bagian dari iman itu. Sebut saja di antaranya adalah kebersihan, memuliakan tamu, memuliakan tetangga, dan cinta. Artinya, bila bagian-bagian itu belum lengkap, maka belum sempurna iman seseorang.
Yang menarik di sini adalah cinta. Dua hadits pembuka di atas menyebut cinta (dalam bentuk kata kerja) sebagai indikator beriman tidaknya seseorang. Lebih tepatnya, cinta--sebagaimana bagian-bagian iman lainnya--diposisikan sebagai tolak ukur keimanan, sedangkan iman menjadi penentu masuk syurganya seseorang.
Jika demikian, tidak berlebih bila cinta yang tergolong dalam bagian iman adalah bagian penting dalam persoalan agama. Yang hendak dikatakan di sini adalah, karena sebab cinta itu persoalan agama, maka berlaku prinsip dasar agama baginya, yaitu tiada pemaksaan dalam agama. Begitulah sebaiknya seluruh soalan agama yang hendaknya dilakukan karena kesadaran penuh bahwa kita butuh padanya.
Mungkin pandangan ini agaknya lemah sekali. Secara dalil, penentang pandangan ini akan berkata bahwa ayat itu berkenaan dengan perkara memasukkan orang dalam Islam. Masuk Islam, kata mereka, tidak boleh seseorang itu dipaksa. Tapi, bila ia sudah berIslam, aturan agama berlaku secara penuh baginya. Sebenarnya, secara bahasa, teks ayat itu terbuka penafsiran yang lebih luas dari sekadar masuk Islam.
Tidak ada pemaksaan dalam agama bisa jadi bermakna tidak boleh seseorang dipaksa masuk Islam, juga tidak boleh seseorang dipaksa menjalankan perintah agama (ibadah). Pada makna kedua ini, sengaja dibatasi sebab yang lebih tepat untuk ditiadakan pemaksaan adalah ibadah. Sebab ibadah adalah istilah lain dari agama dalam arti sempit. Ibadah juga menyangkut hubungan privasi hamba dengan Tuhannya secara vertikal.
Kembali ke persoalan semula, cinta sebenarnya memang bukan sesuatu yang dapat dipaksa. Persoalannya, apakah sarana aktualisasi cinta dapat dipaksakan? Sederhananya, apakah nikah boleh karena paksaan? Bagi laki-laki kiranya semua pandangan sepakat bahwa seorang lelaki tidak boleh dipaksa. Laki-laki boleh menentukan calon pasangannya.
Ketika kita hadapkan bagi perempuan, maka di sana ada pandangan, kiranya mayoritas mengatakan demikian, bahwa perempuan boleh dipaksa. Tapi, alasan-alasan rasional yang diutarakan adalah bahwa perempuan harus ada wali. Siapapun yang berwali, maka walinyalah yang menentukan. Selain itu, selalu pula kita dengar, mana mungkin seorang ayah (wali) menginginkan yang buruk bagi anak perempuannya. Menurut prinsip kesetaraan dan kesamaan, tentu pandangan ini tertolak.
Jika kita kembalikan pada kaidah yang menerangkan bahwa apa-apa yang wajib, maka sarana yang mengantarkan pada kewajiban itu menjadi wajib hukumnya. Sebaliknya, apapun yang haram, maka sarana yang mengantarkan pada keharaman itu menjadi haram hukumnya. Nah, nikah adalah sarana aktualisasi cinta dua hamba yang berlainan jenis. Bila cinta tidak bisa dipaksa, bagaimana mungkin sarananya boleh ada pemaksaan?
Tapi, tidak akan diperdebatkan masalah ini lebih dalam karena bukan itu yang hendak diulas. Yang terpenting justru adalah tujuan pernikahan itu sendiri. Kita dapat katakan bahwa nikah adalah ibadah yang dengannya semoga tentram kedua belah pihak dan saling berkasih sayang serta mawaddah keluarga mereka. Tapi bagaimana mungkin bisa tercapai itu semua bila di antara mereka ada yang dipaksa hatinya?
Bila mengikuti istilah-istilah kitab, konklusi yang dapat ditarik dari bahasan ini bisa dibahasakan sebagai berikut:
Al-nikahu huwa wasilatu li al-hubbi. Wa al-hubbu huwa amrun min al-umuri al-diniyati. Haitsu la ikraha fi al-din, fa kadzalika fi al-hubbi wa wasilatihi (al-nikahi).
Terjemahan:
Nikah adalah perantara bagi cinta. Sedangkan cinta adalah satu perkara dari perkara-perkara agama. Karena tidak ada pemaksaan dalam agama, maka demikian pula dalam cinta dan sarananya (nikah).
Sekalipun tidak bisa diterima sebagai syarat atau rukun, cinta tetap menjadi penting dalam pernikahan. Sebaiknya, perempuan sekalipun, harus ditanya kesediannya. Ditanya haruslah benar-benar ditanya, bukan seremoni belaka. Sebab, sering kita jumpai keadaan di mana wali mengabaikan jawaban anak perempuannya. Nah, bagaimanapun, nikah karena saling mencintai tetap lebih baik bukan? Mengapa ribet dengan hukum tentangnya? Berpikirlah!

Note:
Tulisan ini hanya pendapat yang didasarkan pada kebebasan mengutarakannya. Penggunaan bahasa Arab yang tidak tepat mohon dimaklumi karena penulis bukan orang Arab, bukan pula sarjana bahasa Arab.


Wednesday, July 26, 2017

Cinta dan Rasa Ingin Memiliki


Dalam cinta, rasa ingin memiliki terkadang muncul menjadi bagian darinya. Namun, cinta dan rasa ingin memiliki tetap saja dua hal yang berbeda. Sekalipun seseorang punya dua rasa itu secara bersamaan, tapi tidak lantas menganggapnya sama, terlebih bila ia merendahkan orang-orang yang mampu merelakan/melepaskan sebagai "orang tanpa cinta."
Bahkan, dalam tingkatan tertentu, merelakan bisa jadi lebih tinggi kadar cintanya dibanding rasa ingin memiliki dan tidak bisa melepaskan. Tuhan mengatakan bahwa orang-orang yang beriman itu senantiasa menyadari bahwa semuanya milik Allah dan akan kembali kepadaNya.
Kesadaran demikian adalah istilah lain dari merelakan, bahwa orang-orang yang beriman adalah mereka yang mampu mengikhlaskan apapun yang pergi darinya. Di pihak lain, ia juga meyakini bahwa keadaan demikian boleh jadi lebih baik baginya. Allah pun berkata bahwa apa-apa yang dihapus/diambilNya akan Ia ganti dengan yang lebih baik. Itu sebabnya mengapa keyakinan dan cinta terletak pada kekuatan merelakan, walau terkadang juga terwujud dalam usaha ingin memiliki.
Memiliki dan merelakan dengan begitu dapat kita sebut sebagai bagian dari rasa cinta yang begitu luas cakupannya. Sangkin luasnya, hukuman bisa menjadi bukti dari kecintaan itu. Namun, bagian-bagian itu bukan satu-satunya faktor, dan bukan pula faktor yang menegasikan faktor-faktor lainnya. Artinya, seseorang boleh jadi mencintai dengan merelakan, tapi, tanpa dipungkiri, ada pula yang cintanya justru terletak pada rasa ingin memiliki.
Dan cinta dalam bahasan ini sebenarnya masih bagian kecil dari hakikat cinta itu sendiri, yaitu hanya satu bagiannya saja. Cinta dalam status ini hanya sebatas cinta dua jenis yang berbeda, yaitu antara laki-laki dan wanita. Yang hendak disimpulkan di sini ialah, jangan gegabah menuduh orang lain sebagai manusia tanpa cinta. Sebab, cinta adalah fitrah yang kebetulan di moment idul fitri ini kita harap kembali ada.


Bukti Cinta

Sumber: https://waromuhammad.blogspot.com/
Bila kita ditanyai orang, apa bukti cinta itu? Atau pertanyaan spesifiknya, taruhlah seorang gadis yang menanyakan, apa bukti cintamu padaku wahai anak muda? Apa jawabannya? Tentu sulit kita menjawabnya.
Mungkin hanya saya yang kesulitan. Yang pasti, soal demikian berbeda dengan soal-soal dalam masailal yang diajarkan di pengajian-pengajian. Soal-soal masailal itu sudah ada jawabannya dan bisa dihafalkan. Sedangkan bukti cinta, bisakah tuan-tuan menjawabnya?
Dalam tulisan sebelumnya, ketika saya mengutip dan mengedit seperlunya surat Wis (Saman) kepada ayahnya, sedikit banyaknya saya setuju dengan keyakinan semacam itu. Sejauh ini, biarpun banyak orang menulisnya, cinta tetap tak terangkum sepenuhnya oleh kata-kata.
Karena itu, tentu akan semakin sulit menjawab pertanyaan semula; tentang bukti cinta. Sebab, cinta itu sendiri bukan konsep yang bisa dijelaskan begitu saja, justru harus dirasakan. Dan orang-orang yang merasakan cinta, biasanya sulit pula menerangkan perasaannya.
Mungkin, kita butuh seseorang yang pandai membuat tafsir, tentunya juga sedang dirundung gelora cinta. Tapi pertanyaan berikutnya, apakah bisa keadaan itu ada bersamaan? Dikatakan bahwa cinta membuat orang kehilangan logikanya, lantas bagaimana ia menjelaskan?
Maka dari itu, segala penjelasan tentang atau terkait dengan cinta tidak akan mewakili seluruh, tepatnya justru hanya sebagian kecil dari cinta. Dengan begitu, mendasarkan cinta pada satu penjelasan saja akan sangat lemah nilainya.
Pecinta lain akan dengan mudah membantah penjelasan seseorang tentang cinta sekalipun ia dapat pula untuk dibantah. Dari situlah mengapa cinta itu sendiri bukan untuk diklaim, apalagi klaim yang satu menegasikan klaim orang lain.
Cinta, sekalipun ia dekat dan senantiasa ada, tetap harus dicari dan dicapai. Posisi manusia, laki-laki dan perempuan, hanyalah seperti musafir yang berasal dari Cinta, pergi karena Cinta, dan pulang untuk Cinta. Semua gerak gerik mereka adalah dalam rangka mencintai.
Kembali ke persoalan awal, apa bukti cinta itu? Pertanyaan ini akan menjebakmu pada makna cinta itu sendiri. Maka, sebagai pecinta, kau harus mengenali cinta dan hal-hal yang serupa dengannya. Kau dapat bertanya balik, apa definisi cinta yang tuan maksud? Bila dia tidak dapat menjelaskan, maka kau akan punya dua pilihan:
Pertama, tidak menjawab pertanyaan itu. Kedua, menjelaskan definisinya dan menunjukkan bukti cinta padanya. Pilihan kedua tentu sangat berat, terlebih di hadapan wanita, atau wanita di hadapan lelaki. Pertama-tama yang mesti dipahami adalah cinta tidak mendasarkan dirinya pada hukum tertentu, sebagaimana perilaku mendasari dirinya pada hukum, atau bukti pada alat bukti, atau alat bukti pada UU.
Cinta bekerja tidak dengan logika semacam itu. Cinta adalah cinta. Maka apapun tentangnya, termasuk bukti cinta, haruslah berdasarkan cinta itu sendiri. Dengan begitu, kau akan mengutarakan bukti-bukti yang relevan dan diterima oleh cinta. Dan bukti pertama adalah pengakuan suka rela bahwa kau benar mencintai. Pengakuan di bawah paksaan tidak dapat diterima sekalipun ia relevan.
Kedua, kemauan yang diucapkan dengan mantap. Dalam konteks ini tentu adalah kemauan menikahinya. Lantas sebagian orang akan berkata, bukankah itu berarti cinta dikaitkan dengan hukum? Tidak. Sebab kemauan yang menjadi dasar, bukan nikah. Nikah hanya sarana yang dalam sistem kehidupan tentu akan selalu saling terkait satu dengan lainnya.
Ketiga, komitmen akan saling memberi rasa aman, kenyamanan, kasih dan sayang, serta pembagian peran--bukan kewajiban dan hak. Sekalipun kewajiban dan hak tidak dapat dinafikan, maka ia merupakan sudut lain, sedangkan ini adalah sudut tersendiri dari kehidupan, yaitu cinta.
Masih banyak bukti-bukti lain dari cinta itu. Bukti itu sangat terkait dengan konsep dan keadaan yang dialami si pecinta. Bicara diterima tidaknya, ia tergantung pada yang dituju. Tapi, bila saling mencintai, maka bukti yang satu dengan yang lainnya, sekalipun lemah dalam pandangan umum akan tetap diterima. Sebab mereka yang berhak atas cinta mereka.
Sebagian orang mungkin mengira, kiranya tuan mendasarkan beberapa bagian pada ayat-ayat al-Quran. Kita menjawab dugaan itu dengan jujur; ya, sebab al-Quran adalah Kalam Cinta dan bukti cinta Yang Maha Cinta kepada hamba yang dicintainya. Tapi kita menyadari bahwa ayat-ayatNya terbagi menjadi dua; qauliyah dan kauniyah.
Namun demikian, sekali lagi ditegaskan bahwa soal cinta, sekalipun al-Quran sebagai dasarnya, itu hanyalah upaya serius yang dilakukan oleh para pecinta untuk meneguhkan cintanya. Sedangkan penjelasan tentangnya, tetap saja bukan kebenaran (al-Quran) itu sendiri. Sedari awal bahkan sudah dikatakan, lemah kiranya pandangan ini dijadikan dasar.
_______________________________________________________________________________